Koneksi antar materi modul 3.1- MUH.SUHUR-CGP 2-LOBAR


 

Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best)-Bob Talber

    Dari kutipan di atas menunjukkan bahwa penanaman moral yang tepat akan berimbas pada tumbuhnya pribadi-pribadi yang bersahaja yang mengerti nilai-nilai kehidupan bukan hanya mengerti tentang obyek kehidupan yang menjadi hasil dari sebuah perjuangan hidup secara terus menerus sehingga tercipta pemikiran yang mengarah pada sirnanya nilai kehidupan dan menganggapnya hanya sebagai rutinitas biasa.

    Ki Hajar Dewantara dengan filosofi semboyan Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil yaitu sebagai berikut. 

Konsep triloka yaitu:

  1. Ing Ngarso Sung Tulodo berarti ketika guru berada di depan, seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran harus memberi teladan atau panutan yang baik dalam mengambil keputusan
  2. Ing Madyo Mangun Karso berarti pada saat di antara murid, guru sebagai pemimpin pembelajaran, dalam mengambil keputusan harus menciptakan prakarsa dan ide bagi murid
  3. Tut Wuri Handayani berarti dari belakang, seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan harus bisa memberikan dorongan dan arahan serta memberikan kesempatan kepada murid untuk maju dan berkembang

Berdasarkan konsep tersebut maka keputusan yang diambil seorang pemimpin pembelajaran harus mampu menjadi contoh atau panutan, harus mampu berada ditengah-tengah murid untuk memberikan keadilan, serta mampu memberikan dorongan dan bimbingan kepada muridnya.

 

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri guru berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan

    Banyak ungkapan yang menyatakan bahwa seorang guru adalah figur yang digugu dan ditiru yang artinya “dipercaya dan dicontoh”. Hal itu mengandung arti bahwa seorang guru/pendidik mampu memberikan contoh sikap yang baik kepada siswa maupun masyarakat. Boleh dikatakan guru menjadi sebuah figur bagi para penggemarnya selain siswa itu sendiri. Nilai-nilai kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, kebenaran, penghargaan akan perbedaan, keterbukaan, kemandirian dan tanggung jawab bisa mewakili nilai yang harus ditanamkan dalam diri seorang guru dan menjadi pedoman/prinsip dalam pengambilan sebuah keputusan.

Nilai-nilai diri sebagai seorang guru tentunya adalah nilai kebaikan, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, toleransi, gotong-royong dan masih banyak lagi lainnya. Adapun nilai-nilai yang tertanam dalam diri adalah nilai-nilai yang paling kita hargai dalam hidup dan sangat berpengaruh pada pembentukkan karakter , perilaku dan membimbing keputusan kita. Sebagai Guru Penggerak, tentunya ada beberapa nilai yang harus dipegang seperti nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. Ketika kita menghadapi situasi dilema etika (Benar Vs Benar) , akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan  akan hidup. Begitu juga jika kita berhadapan dengan situasi bujukan moral (Benar Vs Salah). Untuk dapat mengambil keputusan diperlukan nilai-nilai atau prinsip dan pendekatan sehingga keputusan tersebut merupakan keputusan yang paling tepat dengan resiko yang paling minim bagi semua pihak, terutama bagi kepentingan /keberpihakan pada anak didik kita.

    Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial emosional seperti  kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan ketrampilan berhubungan sosial (relationship skills). Diharapkan proses pengambilan keputusan yang dilakukan secara sadar penuh (mindfull), terutama sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada.

coaching menjadi salah satu proses ‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah

    Kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil tersebut bagi saya telah efektif. Keterampilan Coaching membekali seorang guru menjadi pembelajar dan menjadi coach bagi dirinya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memprediksi hasil dan melihat berbagai opsi untuk solusi sehingga dapat mengambil keputusan dengan baik. Hal ini memberikan pengetahuan keterampilan yang berkelanjutan bagi saya karena dalam proses pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran tentunya keterampilan coaching sangat membantu dalam mengajukan pertanyaan untuk mengambil keputusan yang tepat.

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

    Masalah moral atau etika sangat sering terjadi di lingkungan kerja kita karena kita berada dalam komunitas yang besar yakni komunitas pendidikan yang di dalamnya terdapat berbagai macam karakter dan jiwa sosial yang di miliki sehingga rentan terjadi kasus moral dan etika di dalamnya. Ketika Guru berhadapan dengan kasus-kasus yang fokus pada masalah moral atau etika, maka nilai-nilai diri yang dianut dan yang paling dihargai oleh seorang pendidik akan sangat mempengaruhi dalam proses pengambilan keputusan. Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid .

Nilai-nilai ini sangat berpengaruh untuk mengambil keputusan yang ada karena akan berdampak pada minimnya dampak negatif yang akan ditimbulkan serta keberpihakan pada murid tetap diutamakan.

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Dalam pengambilan ada 4 paradigma yang harus kita perhatikan yaitu:

  1.      Individu vs masyarakat, Yaitu dilema yang dialami oleh seseorang, di mana terjadi benturan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan orang banyak.
  2.      Rasa keadilan vs rasa kasihan, yaitu dilema yang dialami seseorang, di mana orang tersebut dihadapkan pada permasalahan yang melibatkan keadilan dan rasa kasihan.
  3.     Kebenaran vs kesetiaan, yaitu dilema yang mengharuskan seseorang memilih antara kebenaran yang ia yakini dengan kesetiaannya.
  4.    Jangka pendek VS jangka panjang, yaitu dilema yang dihadapi oleh seseorang , butuh pemikiran yang matang akan efek jangka panjang dan jangka pendek dari permasalahan tersebut.

              Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan prinsip pengambilan keputusan. Berdasarkan modul yang saya baca pada LMS Program Guru Penggerak, prinsip pengambilan keputusan tergambar pada diagram berikut!

Berdasaran diagram di atas, pengambilan keputusan dibagi atas 3 macam yaitu:

a.     Berpikir berbasis hasil akhir (End Based Thingking)

b.    Berpikir Berbasis Rasa Peduli ( Care Based Thingking)

c.     Berpikir Berbasis Peraturan (Rule Based Thingking)

         Ketiga prinsip pengambilan keputusan tersebut dapat digunakan untuk memetakan permasalahan yang sedang terjadi, sehingga dapat meminimalisir kesalahan-kesalahan yang dapat di timbulkan. Untuk mendapatkan keputusan terbaik, perlu dilakukan pengujian-pengujian. hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan, yaitu:

1.    Menggali nilai-nilai yang bertentangan

2.    Mengidentifikasi siapa yang terlibat

3.    mengumpulkan fakta-fakta yang relevan

4.    pengujian benar atau salah

5.    Buat keputusan

6.    Identifikasi opsi trilema

7.    melakukan prinsip resolusi

8.    Paradigma pengujian benar lawan benar

9.    lihat lagi keputusan dan refleksikan

 

    Pengambilan keputusan yang tepat terkait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dicapai jika dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan . Dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat , maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Kesulitan-kesulitan yang dialami di lingkungan saya dalam mengambil keputusan :

·       Pada saat mengambil keputusan terpengaruhi oleh rasa malu

·       Rasa tertekan pada pimpinan

·       Informasi yang tidak akurat

·       Sering terjadi perbedaan pendapat antara sesama guru dan kepala sekolah

·       Rasa terbuka yang belum tumbuh untuk mau berbagi untuk memperoleh solusi bersama.

Kesulitan-kesulitan diatas selalu kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan.

Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

    Kata “menunutun” Pada konteks merdeka belajar harus digaungkan karena proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada murid sehingga di setiap pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran hendaknya dapat “menuntun” dan memberikan ruang bagi murid dalam proses pengajaran untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan ilmu -ilmu baru yang didapatnya. Dengan demikian murid-murid dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

    Seorang guru hendaknya memprioritaskan kemerdekaan murid dan memastikan hak-hak mereka sudah terpenuhi dengan sempurna sehingga mereka bisa tumbuh dan berkembang sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya yang berujung pada terbentuknya pribadi yang  merdeka, kreatif dan inovatif dalam mengambil keputusan untuk masa depan mereka yang lebih gemilang  serta menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya.

kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya.

    Menjadi pemimpin pembelajaran atau seorang pamong kita  harus mampu mengambil keputusan yang tepat. Dalam mengambil keputusan yang terjadi kita harus menggunakan patokan merdeka belajar bagi murid, oleh karena itu pendidik harus mampu menguasai dan menjalankan konsep triloka. Selain itu dalam menggali dilema/masalah yang terjadi di dalam kelas maupun sekolah pendidik juga harus menggunakan konsep coaching yang baik untuk mengajukan pertanyaan yang bersifat menggali informasi maupun menggali kemampuan siswa, sehingga dalam pengambilan keputusan menggunakan 4 paradigma etika, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 pengujian pengambilan keputusan, sebagai pemimpin pembelajaran keputusan yang diambil merupakan keputusan yang tepat. Jika itu sudah terjadi maka profil akan tercipta profil pelajar Pancasila seperti yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara, dalam Filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara, Guru adalah “penuntun “ segala kekuatan kodrat (kodrat alam & kodrat zaman) pada anak didik agar sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Makna kata “Penuntun”, dapat dipahami sebagai “Pemimpin Pembelajaran”, yang berpusat pada murid. Sebagai pemimpin pembelajaran, seorang guru hendaknya mampu menggabungkan strategi pengajaran dan pembelajaran  dengan kearifan lokal dan filosofi Pratap Triloka dari Ki Hajar Dewantara (1889-1959) yaitu “ Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tutwuri handayani.”

    Seorang guru tidak lagi bertindak sebagai sumber utama informasi dalam proses pembelajaran, tetapi lebih berperan sebagai fasilitator dan mitra belajar bagi anak didik, termasuk dalam hal pengambilan keputusan.

 

Komentar

Posting Komentar